MALANG – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sukses mencetak puluhan mahasiswa bertalenta digital masa depan melalui program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF). Berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya (UB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), program ini berhasil menelurkan berbagai inovasi berbasis AI yang siap mendukung program strategis pemerintah, mulai dari sektor pendidikan hingga penyaluran bantuan sosial.
Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Kementerian Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menegaskan bahwa AITF dirancang untuk menjembatani teori dan praktik nyata di lapangan. Masing-masing perguruan tinggi ditantang untuk memecahkan use case atau permasalahan riil di masyarakat menggunakan teknologi AI.
"AITF dirancang agar mahasiswa tidak hanya mempelajari teknologi secara teoritis, tetapi mampu menciptakan, mengembangkan, menguji, sekaligus menghadirkan solusi AI yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan layanan publik," ujar Bonifasius dalam acara Demo Day and Graduation AI Talent Factory di Universitas Brawijaya, Selasa (30/6/2026).
Pada komitmen tahun 2026 ini, fokus pengembangan solusi AI tersebar di tiga kampus utama:
-
Universitas Brawijaya (UB): Mengembangkan aplikasi pembelajaran untuk Sekolah Rakyat dan sistem pengolahan data penerima bantuan sosial (bansos) Pemprov Jawa Timur.
-
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): Berfokus pada inovasi teknologi perlindungan anak di ruang digital.
-
Universitas Gadjah Mada (UGM): Membangun sistem media analytics untuk mendukung kebutuhan strategis Kementerian Komdigi.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan dari Kementerian Komdigi dan Kementerian Sosial. Ia optimistis bahwa sentuhan teknologi AI dari para mahasiswa ini akan membawa efisiensi baru pada program-program pemerintah.
"Dengan AI, pemberian bantuan sosial diharapkan menjadi jauh lebih tepat sasaran karena didukung sistem pengolahan data yang lebih akurat," jelas Prof. Widodo.
Selain validasi data bansos, inovasi mahasiswa UB juga akan langsung diimplementasikan pada 196 Sekolah Rakyat yang sedang dikembangkan pemerintah. Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak kualitas pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien, sekaligus menjadi modal penting dalam mencetak SDM Indonesia yang unggul.
Sebagai informasi, Universitas Brawijaya merupakan pionir proyek percontohan AITF ini sejak tahun 2025 lalu, yang saat itu berhasil melibatkan 34 mahasiswa dalam memperkuat digital talent pool serta sistem pengawasan digital.